Selembar Coretan dari MTs Kalumbatan

CAPT : MTs KSM Kalumbatan

Oleh : Rifan Touk

Jendela yang tinggal diutupi dengan potongan kayu, rangka bumbungan dari kayu yang mulai dimakan usia, bangku berusia senja yang tetap diduduki meski kakinya tak lagi kokoh, hingga halaman sekolah berlantai tanah.

Bacaan Lainnya

Di sana sebagian putra-putri daerah menentang kungkungan keterbatasan demi merajut mimpi masa depan agar tetap tumbuh, meski tidak sesubur asa mereka.

Kenyataan getir itulah yang setiap hari menampar wajah dewan guru, ketika menyaksikan semangat belajar siswanya di lantai kelas yang hanya berupa polesan semen penuh lubang.

Madrasah Tsanawiyah (MTs) KSM Kalumbatan memang tidak seeksotis sekolah atau madrasah lain yang dibekali fasilitas lengkap, difavoritkan banyak siswa. Ia jauh dari Frasa “Pendidikan yang Layak”.

Denyut nadinya bergantung pada Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari kuantitas siswa di bawah 90 orang. Benar-benar tidak ada yang layak disanjung selain semangat belajar siswa dan ketekunan para gurunya.  

Tak sebatas merajut mimpi, siswa di madrasah sekusam itu beberapa kali mencatatkan langkah jauh, termasuk mengusung citra Banggai Kepulauan ke tingkat nasional, melalui Jambore Nasional Pramuka.

Sayang, capaian itu belum cukup ampuh membuat madrasah yang luput dari lirikan pemerintah daerah itu tersentuh pembangunan sejak mulai beroperasi pada 2009 lampau.

Statusnya yang berada di bawah naungan Kementerian Keagamaan kerap menjadi dalil paling sakti untuk mengabaikan permohonan pembangunan infrastruktur atau bantuan lain bagi madrasah itu.

Namun alasan itu kemudian gugur dengan sendirinya, setelah Madrasah swasta lain di daerah justru memperoleh porsi pembangunan dari APBD.

Hal paling menggelitik, kursi kepemipinan daerah sejak awal Banggai Kepulauan memperoleh otonominya hingga periode 2019-2023, telah diduduki oleh putra kelahiran Desa Kalumbatan sebagai latar berdirinya MTs KSM Kalumbatan.

Tapi lagi-lagi itu tidak cukup berpengaruh untuk para siswa di MTs KSM memperoleh sejumput haknya dari APBD, sebagaimana diperoleh putra-putri daerah di sekolah lainnya.

Padahal anggaran keuangan daerah memiliki fungsi distribusi yang memastikan kebijakan anggaran daerah memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan dalam pendistribusian manfaatnya kepada seluruh lapisan masyarakat.

Kondisi itu kemudian membuat Mts KSM Kalumbatan menjadi semacam mercusuar marjinalisasi pendidikan di Banggai Kepulauan.

Kini di bawah kepemimpinan baru Banggai Kepulauan, Bupati Rusli Moidady dan Wakil Bupati, Serfi Kambey MTs KSM Kalumbatan kembali menggantungkan harapan. Asa untuk memperoleh hak dari keuangan daerah tumbuh kembali.

Hal itu pun telah menjadi salah satu tekad Bupati dan wakil Bupati untuk memberikan perhatian ke MTs pada 2026.

Bahkan, Harianto L. Sadardi, aleg Partai Kebangkita Bangsa (PKB) dari Daerah Pemilihan II lebih tegas melontarkan pernyataan bahwa dirinya tidak mau melihat adanya fakta yang mengutamakan pembangunan pagar sekolah daripada ruang kelas MTs (Rif)

Pos terkait