Sorotan Soal Pengabaian Keselamatan Kerja pada Proyek Pembangunan Tanggul Desa Tombos Ditepis Mandor

SALAKAN POST, SALAKAN – Proses pembangunan tanggul Pengaman Pasang Surut di Desa Tombos tahun 2025, belakangan terus menuai sorotan terutama dari sisi keselamatan pekerja.

Pasalnya, di beberapa kesempatan, para pekerja kedapatan tidak mengenakan Alat Pelindung diri (APD) lengkap, yang mencakup pemakaian helm, rompi, kaos tangan, hingga sepatu bot safety.

Bacaan Lainnya

Namun Roy, kepala tukang alias Mandor menepis dugaan yang menyebut pihak kontraktor atau perusahaan mengabaikan keselamatan pekerja. Sebab, kata dia, ia bersama seluruh anggotanya setiap hari mendapat penekanan dari direksi untuk mengenakan APD.

“Itu keliru pak, karena saya dan seluruh anggota setiap hari di kasi ingat bahkan ditekankan perusahaan melalui direksi untuk tetap memakai APD saat bekerja. Dan itu terus saya sampaikan setiap hari ke anggota saya,” tepis Roy saat ditemui langsung media ini di Sekretariat Direksi, Minggu (26/10).

Bahkan ia mengaku tidak jarang melontarkan nada keras ketika mendapati anggotanya melepaskan sebagian APD saat sedang bekerja. Tapi sebagian pekerja tetap saja melepasnya dalam kondisi tertentu, saat dirinya berfokus ke titik lain pekerjaan.

“Bapak bisa lihat sendiri medan pekerjaan kita. Galian koporan kita sangat dalam dan lebih dari setengah terisi air laut itupun sudah dibantu pakai alkon. Karena tidak nyaman dengan kondisi itu, jadi mereka biasa izin melepas helm atau rompi. Karena kalau mau masuk koporan, setengah badan tukang terendam air, bahkan di awal-awal penggalian lebih dari setengah badan,” jelas Roy.

Dirinya pun mengaku bingung bagaimana menghadapi situasi seperti itu. Karena kalau aturan seperti itu harus diperketat, maka perusahaan harus menindak tegas pekerja, misalnya dengan pemberhentian.

“Nah, kalau sudah seperti itu, bagaimana sikap kita? Keliru juga, kalau perusahaan menindak tegas pekerja dengan sanksi pemberhentian hanya karena kelalaian mereka tidak mengenakan APD. Sementara mereka juga butuh pekerjaan,” tambahnya.

Bahkan bukan hanya dari pihak perusahaan yang menekankan para pekerja untuk mengenakan helm, pengawas konsultan dan pengawas teknis pun senantiasa mengingatkan hal serupa.

Selain itu, tambah dia, pekerja yang tidak aktif masuk setiap hari biasanya tanpa sengaja membawa pulang sebagian APD, sehingga ketika diganti dengan pekerja lain, otomatis APD akan berkurang.

Sehingga permasalahan pekerja yang tidak mengenakan APD lengkap saat bekerja, tidak murni kesalahan perusahaan atau kontraktor, melainkan juga karena pribadi masing-masing pekerja yang terkadang merasa janggal bekerja saat menghadapi kondisi tertentu.

Sementara itu, direksi perusahaan, Candra turut buka suara. Menurutnya, sejak awal APD sudah disiapkan sesuai jumlah yang tertuang dalam kontrak.

“Masalahnya tukang (pekerja) keluar masuk, maksud saya, misalnya, hari ini ada tukang yang membawa pulang sepatu, besoknya dia tidak masuk kerja kemudian diganti, otomatis penggantinya yang masuk tidak akan memakai APD lengkap,” jelas Candra.

Di sisi lain, pihak perusahaan mengadakan penambahan tenaga kerja untuk mendongkrak progres pekerjaan di lapangan. Sehingga sebagai wujud komitmen terhadap keselamatan pekerja, maka perusahaan kembali mengadakan penambahan APD meski pembiayaannya tidak lagi tersedia dalam kontrak.

“Dan untuk pengadaan APD tentunya membutuhkan masih proses dan waktu, sehingga sebagian pekerja yang ngotot untuk bekerja terpaksa menggunakan APD seadanya. Namun kami tetap bertanggung jawab jika nanti pekerja mengalami hal yang tidak diinginkan,” tutupnya. (Rif)

Pos terkait