SALAKAN POST, SALAKAN – Awan tebal sempat mengancam Bukit Trikora Kota Salakan, Kabupaten Banggai Kepulauan siang tadi, Selasa (16/12).
Tapi langit seolah tak mengizinkan setitik pun hujan menyentuh seragam korpri yang dikenakan ratusan “abdi bangsa” di pelataran kantor Bupati sore itu.
Satu di antara ratusan PPPK itu adalah seorang guru TK Negeri di Tinangkung Utara. Baginya hari itu menjadi salah satu momen special dalam babakan kisahnya sebagai tenaga honorer.
Betapa tidak, perempuan bernama lengkap Aswati A. Matiro itu telah mendedikasikan separuh hidupnya sebagai tenaga guru honorer sejak masa mudanya, 2005 lampau.
Memilih untuk mengabdikan diri sebagai tenaga honorer memang tidak disanggupi semua orang. Buktinya, banyak yang memilih “angkat tangan” setelah bertahun-tahun menjadi honorer.
Terlebih, saat dirinya telah berstatus sebagai ibu rumah tangga, selain harus menjalankan statusnya sebagai honorer, dia pun harus mencurahkan sebagian energi untuk keluarga, sebagaimana dijalankan ibu rumah tangga lain.
Tapi kata menyerah benar-benar tidak ada bagi perempuan yang akrab disapa Wati itu. Baginya, menjadi guru merupakan sebuah kehormatan sekaligus ladang investasi yang hasilnya bisa dipetik di akhirat kelak.
Meski harus berjibaku dengan beragam ujian yang terus memaksanya setiap saat untuk mundur, kakinya tetap kokoh berdiri di depan kelas TK Negeri Luksagu untuk mendidik generasi bangsa.
Bahkan ketika beberapa generasi siswa yang dididiknya telah menjadi ASN, prinsipnya tetap keras, selayaknya karang, untuk menjalankan profesi mulia itu.
“Iya, harus diakui, sempat beberapa kali ada perasaan untuk berhenti, tapi semangat besar saya terus melawan itu, sehingga sampai sekarang saya masih bertahan,” tutur Wati.
Meski begitu, ketangguhan prinsip yang mengakar di sanubari perempuan yang dikenal ramah itu, tidak tumbuh dengan sendirinya, tapi juga dipupuk dengan dukungan yang datang dari Lingkungan keluarga, sekolah, hingga teman-temanya.
Setelah 24 tahun mengabdi, Aswati kini telah berhak mengenakan seragam korpri sebagai ASN PPPK. Itu Artinya, segala bentuk pengorbanan yang telah yang ia pertaruhkan akhirnya terbayar tuntas.
Karena itu, bagi dia, kata yang tepat untuk menggambarkan kebahagiaan hari itu hanya “Syukur” dan “Terima Kasih” terutama kepada Bupati Banggai Kepulauan, Rusli Moidady.
Bukan tanpa alasan, menurutnya, kebijakan bupatilah yang mengantarkan dia bersama tenaga honorer lainnya menyandang status sebagai ASN-PPPK.
“Meski pun dengan kondisi anggaran daerah yang terbatas, pak bupati tetap bijak mengakomodir aspirasi teman-teman tenaga honorer yang telah mengabdi selama puluhan tahun menjadi PPPK, sehingga secara pribadi, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pak bupati,” ungkapnya.
Ucapan terima kasih juga ia sampaikan terutama kepada kepala sekolah, Sulastri Yaluna, S.Pd beserta rekan guru di TK Negeri Luksagu yang terus menjaga semangatnya sebagai tenaga honorer.
“Spesial terima kasih saya ucapkan kepada keluarga, terutama untuk anak-anak dan suami saya, karena atas restu merekalah saya sampai di tahap ini, saya minta maaf jika selama ini tanggung jawab saya sebagai ibu dan istri tidak maksimal saya jalankan,” tutupnya. (RF)








