SALAKAN POST, SALAKAN – Maut yang menjemput tiba-tiba memang serasa mengoyak seisi jiwa. Itulah yang mungkin dirasakan keluarga Andriyani Mamangkey karyawan All Swalayan Luwuk, Korban Pembunuhan Tragis Asal Lumbi-lumbia, Banggai Kepulauan, Jumat Pagi (5/12).
Terlebih kabar duka yang sampai ke telinga lahir dari aksi yang teramat tidak manusiawi, tentu sulit membayangkan betapa sakit perasaan yang menimpa keluarga korban, terutama Sang Kakak, Andre Mamangkey.
Andre tak kuasa menyembunyikan sedihnya ketika diwawancarai awak media ini via media sosial, Jumat sore. Baginya, peristiwa itu menjadi salah satu catatan paling menyakitkan dalam hidupnya.
Andre mengawali cerita harunya tentang perjumpaan dengan sang adik, Andriyani (almarhumah) pada momen lebaran idul Adha tahun 2025 di Luwuk, lalu.
Ia sendiri tidak menyangka bahwa pertemuan hari itu adalah momen terakhir ia bertatap muka langsung dengan adik perempuan satu-satunya yang dikenalnya sangat mandiri itu.
Sang adik yang ia kenal pekerja keras, memang sempat meminta pendapatnya mengenai pekerjaan saat sudah berstatus sebagai karyawan biasa di All Swalayan.
“Tapi dia sempat minta pendapat saya tentang masalah pekerjaan. Namun ,” tuturnya.
Namun dengan nada bijak, Andre hanya mengingatkan dan menasehatinya bahwa pekerjaan apa pun harus bisa membikinnya nyaman dan yang terpenting tetap harus berhati-hati.
Di setiap kesempatan berkomunikasi, baik via telfon mau pun tatap muka, sang Kakak memang tidak pernah lengah mengingatkan adiknya untuk senantiasa menjaga diri.
Bukan tanpa alasan, Sang Kakak mengingatkan gadis cantik bernasib malang itu karena statusnya sebagai perantau yang jauh dari keluarga, lebih-lebih aksi pencurian dan perampokan yang terkadang menghebohkan kota luwuk.
Bahkan, seingat Andre, salah satu kasus penganiayaan yang pernah terjadi di Luwuk memaksanya harus menghubungi sang adik untuk waspada. Alamarhumah pun meresponsnya singkat.
“Iya sudah gila kayaknya yang ba aniaya, kasian itu perempuan,” bebernya menirukan jawaban adiknya.
Sebagai Kakak, Andre yang kini sudah berkeluarga dan menetap di kampung sang istri di Kabupaten Buol, sempat dihantui kekhawatiran saat almarhumah meminta restu untuk bekerja di Luwuk.
“Jujur waktu dengar dia kerja di Luwuk, saya sebagai Kaka rasa bagaimana, rasa kasian karna perempuan sendiri tanpa bantuan siapapun belajar mandiri,” tuturnya.
Apalagi, sambung dia, saat sang adik menyebut bahwa ia bersama temannya yang juga menjadi korban aksi keji pelaku dalam kejadian itu hanya tinggal berdua di mess All Swalayan.
Sebelum menjadi karyawan All Swalayan, gadis yang dikenal ramah di keluarga dan temannya itu, sempat bekerja di sebuah toko pakaian di luwuk, namun tidak lama.
Di All Swalayan pun, kata Andre, adiknya tidak langsung mendapat kepercayaan menjadi kepala toko melainkan memulai status sebagai karyawan biasa, kemudian dinaikkan ke kasir, hingga kini dipercayakan sebagai kepala toko.
Almarhumah yang merupakan Pembawa baki Paskibraka Kabupaten Banggai Kepulauan tahun 2021 itu, menurut sang Kakak sempat bercita-cita menjadi Polwan atau kuliah di jurusan kesehatan. Namun karena himpitan ekonomi, ia pun harus mengubur dan melupakan semua mimpi itu.
Jalan hidup mandiri pun mulai dilakoninya dengan melamar pekerjaan di Kota Luwuk. Namun lebih dari dua tahun bekerja, kekhawatiran sang kakak akhirnya berujung kenyataan pahit.
Hal paling disayangkan Andre dari kejadian itu yakni kurangnya perhatian pemilik All Sawalayan terhadap sisi keamanan dan keselamatan karyawan.
Menurut dia, All Swalayan sebagai salah satu tempat perbelanjaan yang memiliki citra pelayanan terbaik di Kota Luwuk seharusnya melengkapi setiap tokonya dengan perangkat pengamanan, misalnya sekuriti.
Terlebih lagi, jika karyawannya semua perempuan, maka pihak toko semestinya memiliki perangkat pengamanan yang bisa menjamin keamanan All Swalayan dari aksi-aksi kriminal, mulai pencurian hingga perampokan.
“Sebagai toko yang memiliki cabang di beberapa titik di kota luwuk, masa All Swalayan masih kurang pengamanan, masa untuk menggaji seorang security saja tidak bisa, itu yang saya sayangkan, kalau ada yang jaga pasti hal seperti ini tidak mungkin kejadian,” ucapnya.
Meski begitu, berkaitan dengan sanksi hukum, Andre memahami bahwa keluarga tidak berhak mengintervensi pihak berwenang dalam melaksanakan fungsinya dalam perkara itu. Namun, ia berharap penanganan kasus itu harus dilakukan seadil-adilnya sesuai aturan hukum yang berlaku.
Terlepas dari kelalaian pihak All Swalayan dalam pengamanan, peristiwa itu beber dia, sudah menjadi bagian garis takdir. Ia kini berusaha untuk merelakan kepergian abadi sang adik menghadap pemilik sejatinya.
Mewakili keluarga, ia juga menyampaikan permintaan maaf jika selama hidupnya almarhumah pernah berbuat kesalahan.
“Kami keluarga hanya minta doa dari semua masyrakat untuk adik tercinta kami dan mohon maaf kalau selama hidup adik saya ada salah-salah kata atau perbuatan. semoga hal seperti ini tidak lagi dirasakan oleh orang lain,” ucapnya.
“Untuk All Swalayan, SOP perusahaannya tolong diperbaiki apalagi ini menyangkut nyawa orang, kemanan dan keselamatan karyawan jauh lebih penting dari apapun,” tandasnya. (Rif)








