“Adila menangis di atas sajadah, sebagai sisa hempasan doa yang diperas di sepanjang subuh hingga fajar menyingsing. Dia memang percaya, bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Tapi ujian yang menghiasi di sepanjang jalan, ialah takdir yang tak mudah untuk dijalani. Menggapai langit membuat dia sedikit mendapatkan ketabahan”
SALAKAN POST, SALAKAN – “Jodoh itu…” kata Adila saat melihat anaknya di ruang tamu sedang menyeterika baju kerja. “Jodoh itu kadang terkait di antara dua orang yang mempunyai keinginan yang sama. Misalnya sama-sama suka laut, sama-sama suka kucing, sama-sama suka makan kangkung.”
“Kalau begitu, karena saya suka makan kangkung, mungkin jodoh saya adalah kelinci.” lanjut Klin.
Adila tertawa. Suaranya yang tersangkut tumpukan usia, terdengar syahdu di telinga Klin.
“Seandainya kelinci itu bisa menyeterika baju, tidak masalah.” kata Adila kembali menggoda anaknya.
“Anak Mama ini masih terus berusaha. Mama jangan khawatir.”
Usaha? Usaha yang mana? Tanya Klin di dalam hati pada dirinya sendiri. Terus bertanya demikian hingga berbaring di atas ranjang. Karena mungkin tak punya materi untuk menjawab, tiba-tiba wanita itu tampak dalam pikirannya, lalu terbawa ke dalam mimpinya.
Klin masuk ke dalam ruangan. Wanita itu mengeluarkan jurus-jurus pamungkas yang panjang dari lidahnya yang tak henti-henti berbicara. Membuat orang-orang terpana. Pesona kecantikan dan mewahnya retorika menembus jantung. Mungkin Klin yang paling merasakan dampaknya. Entah hanya kagum seperti pandangan pertama menembus kaca jendela. Atau inilah yang namanya jatuh cinta.
Tiba-tiba ruangan menjadi gelap. Menjadi senyap. Lalu sebuah lampu menyinari wanita itu yang terdiam membisu. Orang-orang menunggu. Wanita itu pun mengumpulkan kekuatan untuk menyemburkan kembali kekayaan pikirannya melalui kata-kata yang telah ditunggu-tunggu itu. Tapi kemudian mulutnya masih saja membisu.
Klin berlari ke supermarket membeli sebutir permen penyegar tenggorokan. Lalu memberikan permen itu pada sang wanita, seperti seorang pria menyerahkan hal sangat berharga pada wanita yang dicintainya. Sang wanita menerima dengan secepat kilat karena sangat membutuhkannya. Lalu segera menelannya. Begitu mencoba mengeluarkan suara lagi, mulutnya tak melepaskan apa-apa. Dia mengulangnya berkali-kali. Setiap mengulang, ruangan itu malah semakin dipenuhi kesunyian. Jelas, wanita itu panik luar biasa.
Klin tampak lebih panik. Nalurinya sebagai seorang pria bekerja lebih keras demi menemukan solusi dari masalah atas wanita yang dikaguminya. Lalu, di luar dugaan orang-orang yang masih terus menunggu, Klin mencabut suaranya sendiri, lalu ditanam ke dalam mulut wanita itu agar bisa bersuara kembali.
Orang-orang penasaran apa yang akan terjadi. Usai menanam suaranya ke dalam tenggorokan wanita itu dengan demikian hati-hati, akhirnya wanita itu menghembuskan suara. Klin hafal setiap detail suara itu ialah miliknya. Betapa kebahagiaan kembali dirasakannya.
“Sebelum itu, yang tidak berkepentingan silahkan meninggalkan ruangan. Pintu keluar ada di sebelah sana,” kata wanita itu tegas sambil menatap Klin, dan dengan tangan kiri terangkat menegaskan ultimatumnya.
Klin tidak mengerti, tapi telah mendapatkan firasat buruk dari kata-kata wanita yang diucapkan menggunakan suara miliknya sendiri.
“Iya, termasuk kamu orang asing yang pegang sapu. Silahkan keluar.” lanjut wanita itu dengan semburat tatapan tajam.
Bagaimana mungkin babu itu diusir oleh suaranya sendiri?
Klin terbangun dengan keringat memenuhi sekujur tubuhnya.
*
Di dapur saat sarapan pagi, Klin berbicara hanya ketika menjawab pertanyaan Adila. Itu pun hanya sepotong kecil dari jawaban yang biasa diberikan di hari-hari sebelumnya. Energi hidupnya seakan diisap mimpi. Menyisahkan sinar tatapan yang redup di kelopak matanya. Tentu saja Adila tak mengerti apa yang telah terjadi.
Di tempat kerja, Klin hampir tidak menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik. Saat disuruh membuat teh dia menghidangkan kopi. Ketika diperintahkan membeli pembalut, dia membawa popok. Konsentrasinya berantakan. Sebelumnya dia tersenyum hampir setiap bertemu orang. Sekarang jangankan tersenyum, wajahnya seakan tak lagi bisa diisi dengan apa-apa, selain kehampaan, yang membuat orang-orang menganggap Klin telah mengalami gangguan. Entah gangguan apa.
Atasannya tak bisa membiarkan itu terus terjadi. Maka Klin disuruh pulang hingga kondisinya pulih. Itu berarti, selama batinnya tak kunjung mampu berhenti bergolak, selama itu pula Klin tak mendapatkan penghasilan.
Pria itu pulang ke rumah dengan perasaan yang semakin remuk. Di tembok dia menyandarkan bahunya meratapi nasibnya. Adila kasihan melihatnya.
Entah di hari ke berapa, Adila seperti tak bisa menahan perasaanya melihat anaknya begitu lama tenggelam di kesunyiannya dan kesendiriannya. Bahkan Klin menambah ceruk kehampaan hidupnya dengan memilih tak lagi menjawab semua pertanyaan.
Adila menangis di atas sajadah, sebagai sisa hempasan doa yang diperas di sepanjang subuh hingga fajar menyingsing. Dia memang percaya, bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Tapi ujian yang menghiasi di sepanjang jalan, ialah takdir yang tak mudah untuk dijalani. Menggapai langit membuat dia sedikit mendapatkan ketabahan.
Oleh karena itu, saat kembali melihat anaknya tak bergeming seakan dibungkus penderitaan, Adila tak lagi begitu goyah.
Wanita tua rentah itu keluar. Dia akan mencari pekerjaan. Hampir tak ada lagi yang bisa dimakan. Lelah. Tapi hidup yang mana yang tidak lelah. Resah, takut, sedih pun menggumpal di dalam dirinya.
Entah berapa jam kemudian, Adila akhirnya melihat sesuatu yang menawarkan harapan. Sebuah baliho berukuran sangat besar. Menampilkan gambar seorang wanita cantik dari kepala hingga pinggang. Dihiasi pancaran senyuman menawan. Geligi putih, bersih, dan rapi. Diberi keterangan nama di pojok bawah. Dilengkali sederet titel. Serta yang paling ajaib sebuah frasa: MEMBELI SUARA!
Tak berpikir panjang, Adila menjual suaranya ke wanita di baliho tersebut. Setelah memperoleh sejumlah uang, Adila berlari ke pasar membeli kangkung, ikan, dan beras. Yang mungkin cukup untuk persediaan dua atau tiga hari.
Tiba di rumah, Adila membuat masakan kesukaan anaknya. Seperti harapan yang selalu dipercaya dan dipelihara di dalam dirinya, bahwa masakan itu akan membuat Klin senang. Atau paling tidak, memudarkan sedikit kegelisahan.
Setelah semua beres, Adila mengajak anaknya. Di sana, di depan makanan kesukaannya itu, Klin masih saja terdiam. Adila menyendok nasi ke dalam sebuah piring, lalu sayur, kemudian ikan. Menu yang menggugah selera yang sekarang menyatu dalam sebuah piring itu diletakkan di depan anaknya, hingga aroma menyusup ke dalam hidungnya. Namun lagi-lagi Klin tak bergeming.
“Makan dulu, Nak.”
Klin meraih piring berisi makanan kesukaannya itu, tapi lalu membantingnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Adila kaget bukan main. Itu anaknya. Itu darah dagingnya. Itu hari-hari yang selama ini disusunnya menjadi sebuah bangunan kepribadian yang utuh demi kebahagiannya. Adalah perasaannya sendiri yang ditumbuhkan dalam diri yang lain. Bagaimana mungkin Adila tidak hancur. Tapi apa yang bisa dilakukan wanita tua seperti dirinya? Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi letupan emosi yang telah membakar-bakar anaknya? Hatinya bagai tercabut dan meleleh menjadi banjir air mata.
Jika kangkung, ikan, dan nasi yang dibeli dengan suaranya itu masih kurang, apa lagi yang bisa dilakukan Adila. Apakah orang tua itu harus menjual cintanya?
Klin terbangun. Sekujur tubuhnya dipenuhi keringat. Mimpi lagi? *
Terdengar ketukan pintu. Dari luar Adila berkata, “Ada orang yang mencarimu, Nak.”
Klin bangkit dari ranjang. Segera membuka pintu, “Siapa?”
“Perempuan. Cantik.” jawab Adila sembari tersenyum.
Klin segera ke depan cermin. Memerhatikan seakan hampir setiap inci permukaan wajahnya. Menghiasinya dengan harapan yang dibangun oleh dirinya sendiri, meski kenyataan tak seindah itu. Matanya, hidungnya, bibirnya, rambutnya dan semua yang tumbuh di sana dipupuk dengan tindakan yang nyaris tak pernah dilakukan selama ini. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, dan yakin perbuatannya telah menghasilkan seni yang akan membuat orang tertarik padanya, Klin keluar menemui tamunya.
Saat sinar mata tamu bertemu dengan pandangannya, dada Klin berdegup kencang. Saat senyuman tamu beradu dengan senyumannya, hati Klin bergetar hebat. Saat telah duduk saling berhadapan, Klin gemetar.
“Selain ibumu dan kamu, siapa lagi yang tinggal di rumah ini?” tanya wanita itu.
“Hanya kami berdua.” jawab Klin.
“Keluarga?”
“Maksud Anda?”
“Saya sengaja datang ke sini untuk meminta maaf, sekaligus membayar kesalahan yang pernah saya lakukan beberapa bulan lalu.” lanjut wanita itu.
“Kesalahan apa ya?” tanya Klin.
“Waktu itu, saya sangat sibuk sampai lupa kalau permen pelegah tenggorokan itu bukan dibeli menggunakan uang saya. Tapi mungkin menggunakan uang Anda.” jelas wanita itu.
Klin takjub akan pengakuannya. Sungguh wanita berhati malaikat. Tak ada orang yang kiranya sudi datang bertemu pada seorang babu di rumah tak layak huni hanya untuk membayar hutangnya, yang itu pun hampir terlupakan.
“Ini…” kata wanita itu lagi, menyodorkan selembar amplop putih.
“Saya kira tidak perlu berlebihan begini hanya untuk memberikan uang lima ribu rupiah.” kata Klin.
“Dibuka dulu.”
Klin menerima amplop itu dengan agak canggung, dan dengan sedikit tangan bergetar membukanya. Setelah mengetahui isinya, Klin memasukkan semua kembali ke tempatnya, lalu meletakannya ke atas meja.
“Apa maksudnya ini?” tanya Klin sambil sejenak menatap tamunya.
“Hutang saya.”
“Itu memang hutang. Tapi saya tak pernah bilang kalau ada riba di dalamnya. Mohon maaf, saya tak pernah membetulkan hal seperti ini. Meski saya…”
“Saya ikhlas. Ambil saja.”
Klin terdiam.
“Apa itu kurang?” tanya wanita itu.
“Jangan menghina saya.”
“Saya datang dengan niat yang bersih. Saya hanya ingin membantu. Mungkin cara ini salah menurut ajaran yang kamu pahami. Tapi sekali lagi, tolong jangan menganggap ini sebagai penghinaan, atau apalah.” tegas wanita itu dengan lembut. “Terimalah…” lanjutnya sembari menambahkan beberapa lembar uang seratus ribu di atas amplop.
Klin luluh. Entah kali yang ke berapa, Klin menangkap keindahan sikap wanita itu.
“Saya bertanya sama atasan Anda tentang alamat tempat tinggal Anda ini.” kata wanita itu lagi.
“Teman saya bilang, Anda adalah orang penting.” kata Klin.
“Tidak juga.” kata wanita itu, kemudian berdehem.
Klin menyadari belum memberikan jamuan apa-apa pada tamunya. “Sebentar saya ambil air putih.”
“Tidak perlu repot-repot.”
“Atau saya perlu belikan permen pelegah tenggorokan lagi?”
Klin dan wanita itu tertawa bersama teringat hari pertama jumpa.
“Sebagai anggota dewan, saya memang sering dibilang orang penting. Dan itu… untuk menyuarakan aspirasi, saya butuh suara yang lantang agar bisa didengar.”
“Suara?”
Tiba-tiba seorang pria muncul di lubang pintu, “Maaf, Bu, kita harus pergi sekarang.”
Wanita itu mengangguk, kemudian menatap Klin dengan penuh senyuman, “Ini ada brosur saya. Barangkali bisa bermanfaat untuk pemilihan umum besok.” katanya lugas sambil meletakkan benda itu di atas lembaran-lembaran uang.
Lalu tiba-tiba Klin mengingat semua mimpi buruknya, memasukkan segenggam suaranya ke dalam tenggorokan wanita itu. Namun ternyata sang wanita menggunakan suara yang terpantul di ujung tenggorokannya malah untuk mencampakkan pemiliknya sendiri. Mencampakkan Klin.
Pria itu termangu. Seperti sedang patah hati. Lalu berkata pada tamunya yang akan keluar, “Kata mama saya, jodoh itu terkait di antara dua orang yang memiliki keinginan yang sama. Bukankah itu berarti, pemilih dan siapa yang dipilihnya akan berjodoh ketika mempunyai cita-cita yang sama? Dan karena cara yang Anda lakukan berbeda dengan apa yang selama ini saya pahami, saya pikir kita bukan dua orang yang sedang berjodoh. Maksud saya, sebagai orang penting, saya yakin Anda salah alamat!”
HLK : Penulis adalah alumni Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitasn Negeri Gorontalo tahun 2009








